"Tolong jangan bandingkan aku dengan anak lain atau dengan saudara kandungku. Aku tahu ini memang berat bagi ibu dan ayah."
Aku meman
g anak ibu dan ayah sama seperti kakak-kakak dan adikku, juga anak ibu dan ayah. Tapi walaupun kami semua anak ibu dan ayah, bukan berarti kami sama dalam segala hal, termasuk juga dalam hal kecerdasan. Bisa jadi aspek kecerdasan yag menonjol pada kakak-kakakku. Oleh sebab itu, aku mohon pada ibu dan ayah, janganlah membanding-bandingkan aku dengan saudara-saudaraku atau membandingkan kemampuanku dengan anak lainnya. Aku tahu ini memang berat bagi ibu dan ayah, karena ibu dan ayah tak ingin melihatku tidak seterampil atau secerdas anak-anak lainnya. Sebenarnya aku juga ingin pintar, aku juga ingin cerdas dan aku juga ingin menjadi anak yang sholeh dan sholehah, seperti yang ibu dan ayah dambakan. Tapi, hatiku rasanya terkoyak-koyak dan semangatku untuk menjadi anak cerdas, anak yang sholeh dan sholehah menjadi kendot tatkala ibu dan ayah tidak sabar melihat proses yang kujalani, yang pada klimaksnya ibu dan ayah membuat pembanding dengan diriku, dan terkadang pembanding yang ibu dan ayah berikan tidak adil aku rasakan. Kalaulah aku bisa berargumen dihadapan ibu dan ayah, akan kukatakan bahwa kepintaran yang dimiliki oleh kakak karena kakak sering dilatih dan sering dapat bimbingan dari ibu dan ayah. Begitu juga dengan teman-teman seusiaku yang terlihat pintar dariku, lebih banyak mendapatkan bimbingan dan perhatian dari ibu dan ayahnya. Apakah salah, bila aku juga menuntut perhatian dan bimbingan yang maksimal dari ibu dan ayah? Aku rasa tidak, karena usiaku masih dini ini, aku sangat tergantung dengan orang lain khususnya ibu dan ayah.
Sumber: Dr. Ir. Yuliana, M.Si, Ayah, Ibu...Tolong Mengerti Aku..., Mahabbah Pustaka, Bogor, 2008.
g anak ibu dan ayah sama seperti kakak-kakak dan adikku, juga anak ibu dan ayah. Tapi walaupun kami semua anak ibu dan ayah, bukan berarti kami sama dalam segala hal, termasuk juga dalam hal kecerdasan. Bisa jadi aspek kecerdasan yag menonjol pada kakak-kakakku. Oleh sebab itu, aku mohon pada ibu dan ayah, janganlah membanding-bandingkan aku dengan saudara-saudaraku atau membandingkan kemampuanku dengan anak lainnya. Aku tahu ini memang berat bagi ibu dan ayah, karena ibu dan ayah tak ingin melihatku tidak seterampil atau secerdas anak-anak lainnya. Sebenarnya aku juga ingin pintar, aku juga ingin cerdas dan aku juga ingin menjadi anak yang sholeh dan sholehah, seperti yang ibu dan ayah dambakan. Tapi, hatiku rasanya terkoyak-koyak dan semangatku untuk menjadi anak cerdas, anak yang sholeh dan sholehah menjadi kendot tatkala ibu dan ayah tidak sabar melihat proses yang kujalani, yang pada klimaksnya ibu dan ayah membuat pembanding dengan diriku, dan terkadang pembanding yang ibu dan ayah berikan tidak adil aku rasakan. Kalaulah aku bisa berargumen dihadapan ibu dan ayah, akan kukatakan bahwa kepintaran yang dimiliki oleh kakak karena kakak sering dilatih dan sering dapat bimbingan dari ibu dan ayah. Begitu juga dengan teman-teman seusiaku yang terlihat pintar dariku, lebih banyak mendapatkan bimbingan dan perhatian dari ibu dan ayahnya. Apakah salah, bila aku juga menuntut perhatian dan bimbingan yang maksimal dari ibu dan ayah? Aku rasa tidak, karena usiaku masih dini ini, aku sangat tergantung dengan orang lain khususnya ibu dan ayah.Sumber: Dr. Ir. Yuliana, M.Si, Ayah, Ibu...Tolong Mengerti Aku..., Mahabbah Pustaka, Bogor, 2008.
Senin, 05 April 2010
10 Januari 2011 pukul 14.59
wiiiiii.. Bagus desain blog nya...
eh ini the apa sih, kopi pasteu, ato ngetik sendiri, atau apa? asa kayak uneg uneg seorang anak buat ortu nya... ato ini malah curhatan kamu?? wow